Petani di Batu Bara Menjerit Tanaman Padi Hancur, Diduga Akibat Limbah Pabrik Tapioka

Iwan Obot
.
Rabu, 24 Agustus 2022 | 14:47 WIB
Foto, Dedi Sirait memegang padi yang hancur, diduga akibat limbah pabrik tapioka. iNewsAsahanraya.id/Fadly Pelka.

BATU BARA, iNewsAsahanraya.id - Petani Dusun Sekar Melati, Desa Kuala Sikasim, Kecamatan Sei Balai, Batu Bara, menjerit, pasalnya tanaman padi miliknya hancur akibat terendam air limbah, diduga berasal dari pabrik tapioka yang terletak di Desa Perjuangan, Kecamatan Sei Balai, Batu Bara, Sumatera Utara.

Salah seorang petani yang menjadi korban, Dedi Sirait (30), warga Desa Kuala Sikasim, menyebutkan, tanaman padi miliknya hancur dan positif gagal panen, akibat terendam air limbah. Rabu (24/08/2022).

"Habislah bang, nggak ada harapan lagi kalau sudah seperti ini kondisinya," ungkap Sirait, saat dikonfirmasi iNewsAsahanraya.id di areal sawahnya. Bukan sawah saya saja yang hancur, punya tetangga juga ikut hancur, kata Sirait sambil memegang tanaman padi miliknya yang sudah berubah warna.

"Punya saya saja ada 1 hektare, belum lagi yang lain, kalau ditaksir kerugian ya 15 juta lah," ujar Sirait dengan nada lesu.

Semenjak berdirinya pabrik tapioka sudah tiga tahun terakhir ini mengalami hal sepertu ini.

"Sebelum beroperasi pabrik tapioka, kalau terendam banjir padi kami tidak mati, tapi sekarang lihatlah, air yang dari tali air berubah kehitam - hitaman, tidak seperti dulu lagi," sebut Sirait.

Habis sudah harapan untuk biaya hidup dan anak sekolah, sampai sekarang tidak pernah ada perhatian dari pihak perusahaan, ungkap Sirait.

Hal yang sama diungkapkan salah seorang warga di Dusun Sekar Melati, Kuala Sikasim, Paiman, tidak hanya tanaman padi yang ikut mati, rumput dan ikan juga ikut mati.

" Semenjak beroperasinya pabrik tapioka kami setiap tahun mengalami hal semacam ini. Ada dua perusahaan yang berada di hulu parit ini, tapioka dan PKS mini," jelas Paiman.

Pabrik tapioka tidak punya kolam penampung limbah, kalau hujan lebat dan banjir limbahnya kami yang menampung, sebut Paiman.

"Air boring kami juga ikut terimbas bau dan berubah warna, dan gatal," jelasnya.

Pihak perusahaan pabrik tapioka belum bersedia dikonfirmasi wartawan, karena tidak ada janji untuk bertemu, kata petugas Satpam.

Masyarakat dan petani berharap agar Pemkab Batu Bara, dan pihak terkait menindak tegas kepada perusahaan yang nakal, membuang limbah sembarangan.

Editor : Mohd Fadly Pelka
Bagikan Artikel Ini